Jumat, 07 Agustus 2015

DUSTA


DUSTA
(Noviandya)
 “Mungkin sang fajar dan sayap-sayap burung patah
Menyaksikan kita berseteru selalu tak pernah damai
Mungkin cintaku terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu sehingga kita bersama
Sebait lagu dari Potret – mungkin terus menggema ditelingaku. Bagaimana bisa lagu itu sama persis dengan apa yang kurasa. Aku semakin meringkuk memeluk benda lembut berukuran setengah dari tinggi badanku. Ya. Guling kesayanganku—satu-satunya benda yang selalu menemaniku tiap kali aku meluapkan segala permasalahan yang ditimbulkan oleh kata yang biasa orang menyebutnya CINTA. Aku amat terasa muak dengan kata itu. Sungguh?! Aku masih ingat betapa aku begitu tersakiti akan hal itu. Kini, aku hanyalah gadis yang begitu rapuh. Iya—aku rapuh tapi dengan segenap topeng yang kumiliki, aku terlihat begitu tegar.
“Sayang, dengarkan penjelasanku dulu. Aku mohon” pintanya dengan begitu rapuh dan kelu
“Cukup, mas!. Aku begitu muak dengan semuanya.” Isakku pecah mendengar penjelasan yang akan ia jelaskan
“Sayang, aku mohon dengarkan dulu”
Ingatan percakapan pahit itu kembali mengiang dalam otakku “Argh!” pekikku dengan nada frustasi sebari aku melemparkan boneka kesayanganku. “Aku benci. Aku benci kamu, mas. Aku benci!” isakku tak tertahan lagi. Aku masih ingat betul bagaimana perpisahan pahit itu terjadi. Permainan konyol—bukan konyol melainkan keji bagiku.
“Sayang, dengarkan aku. Aku tidak tahu jika begini akhirnya tapi demi Tuhan aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu. Aku tidak bohong.” Ungkapnya dengan nada begitu pilu dan—menyesal. Menyesal? Benarkah ia punya rasa sesal setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku masih ingat betul bagaimana aku bisa mengenalnya bahkan menerimanya sebagai sosok lelaki paling indah hingga berpalingpun aku enggan. Aku juga masih sangat ingat betul betapa bahagianya aku bersamanya.
Kala itu, aku tengah berjalan sendiri ditengah gelapnya malam dan indahnya kilauan bintang bersinar. Aku begitu lelah sehabis mengerjakan tugas kelompok di rumah Arinta. Mataku sayup-sayup menangkap gerombolan pria bertato dengan tangannya menggenggam botol beling berwarna coklat kehitaman. Perasaan takut dan waspada terus menerus menghantuiku. Aku kalut. Aku takut. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam tanpa kusadari gerombolan pria itu mulai mendekat.
“Adik manis mau kemana? Abang antar ya” sahut pria bertopi putih berkaos hitam dengan nada menggodanya.
Aku terus berjalan dan menghiraukan godaan pria-pria bejat itu. Tiba-tiba tanganku ditarik salah satu pria yang memiliki jenggot lebat. “Akhh” pekikku kesakitan akibat genggamannya yang begitu erat. “Sini adik manis, temani abang-abang ini sebentar. Abang tidak akan macam-macam kok. Betul kan, teman-teman hahaha” ucap pria yang menarik tanganku itu. Tiba-tiba datang lelaki asing mencoba menolongku “Hey?! Lepaskan gadis itu!” perintahnya dengan nada yang bisa dibilang amat mengerikan. Mereka bergulat yang entah bagaimana bisa kuungkap. Aku ketakukan. Bersyukur Tuhan mengirimkan malaikat padaku akhirnya aku lepas dari jeratan pria-pria bejat itu.
Tapi—sebentar. Siapa lelaki itu?
“Kamu tidak apa-apa?” tanya dengan nada ngos-ngosan sehabis bergulat tadi. Aku maklumi dia terbilang keren. Bahkan perempuan manapun bisa tertarik padanya. Mata indahnya terpancar jelas ditengah kegelapan malam. Aku mengangguk, mengiyakan bahwa aku baik-baik saja tapi agaknya raut wajahku masih memperlihatkan ketakutan yang menghantuiku sedari tadi. “Oh iya, perkenalkan, Revan. Aku rasa kamu masih dibawahku. Panggil saja Mas.” Ucapnya memperkenalkan diri dengan memasang senyumnya
“Terimakasih, mas. Diana balik dulu.” Sahutku dan berlalu begitu saja tanpa menoleh kebelakang melihat mas Revan yang masih mematung.
**
Hari terus berganti hari, hampir setiap hari aku bertemu mas Revan. Bagaimana tidak, ternyata dia adalah anak baru kelas XII disekolahku. Banyak perempuan begitu mendambakannya. Ya. Aku pun. Hingga ketika aku berniat pergi menuju toilet sosok gagah menarik tanganku “Diana” panggilnya begitu indah ditelingaku. Aku tak lupa suara itu. Suara mas Revan. “Eh iya, mas. Ada apa panggil Diana?” sahutku cepat memasang senyum yang amat sangat ceria. “Ikut mas sebentar. Ada yang ingin mas bicarakan.” Ungkapnya dengan penuh penekanan seakan menggambarkan bahwa mas Revan serius dalam ucapannya. Aku pun mengikutinya. Semua mata kini tampak mengikuti setiap langkahku ‘Ada apa dengan mereka? Apa ada yang salah denganku’ gerutuku dalam hati sebari memanyunkan bibir merahku. Mas Revan terus menyusuri koridor sekolah tanpa memperdulikan beribu mata yang memandang kearah kami berdua.
Akhirnya kami sampai disudut taman belakang sekolah. ‘Sudah lama aku tak mengunjungi taman ini. Masih indah saja taman ini. Bunga mawar pun—bunga favoritku—masih bermekaran dengan indahnya’ gumamku kagum melihat taman belakang ini. “Diana, aku ingin bicara denganmu.” Potong mas Revan membuyarkan lamunanku. “Eh, iya mas ada apa?” jawabku sontak dengan mata bisa dibilang kaget. “Begini, mungkin ini terlalu cepat tapi aku merasa ada yang ganjal di hati mas. Kamu berbeda, Diana.” Ungkapnya aku masih terbilang kaget dan ragu akan ucapannya tapi mas Revan segera menyanggahnya.
“Kamu mau menjadi kekasihku, Diana?”
**
Setelah ungkapan kasih mas Revan, hubunganku dengannya sudah bisa terbilang sangat dekat. Kami menjadi dua sejoli yang kasmaran. Setiap hari kami selalu menghabiskan waktu bersama. Entah ketika jam istirahat bahkan ketika kami sama-sama mengerjakan tugas sekolah masing-masing. Rumah mas Revan tidak jauh dari rumahku, hanya berkisar kurang lebih 2km. Hingga suatu ketika, aku ingin menuju kantin dan melewati kelas mas Revan. Aku mendengar suara gerombolan lelaki sedang berunding dan aku mendengar pula suara yang tak asing lagi—suara mas Revan. ‘Ada apa’ gusarku sebari menguping pembicaraan meraka yang tampak serius.
“Bagaimana Rev? Kau bilang hanya beberapa hari ini sudah hampir 6 bulan kenapa tidak kau akhiri saja. Taruhan kita bagaimana, Rev. Jangan sampai kau larut dalam perasaanmu.” Ucap salah satu teman mas Revan yang terlihat mencibir mas Revan. Seketika dunia seakan runtuh. Dadaku sesak mendengar semua itu. Buliran air mata tak bisa ku tahan lagi. Aku dengan cepatnya berlari menuju toilet.
‘Benarkah pernyataan itu?! Jadi aku hanya bahan taruhan? Mas Revan jahat!!!’ pertanyaan itu terus mengaung dikepalaku. Benarkah?!
“Jahat kamu, mas. Tega sekali kamu denganku.” Isakku tak tertahan sebari bercemin melihat keadaanku yang begitu amat kacau. Aku termenung begitu lama di toilet hingga tak sadar aku harus kembali ke kelas. “Ya Tuhan!” sontakku kaget melihat mas Revan berdiri menunggu didepan pintu toilet wanita ini. “Sayang, kamu kenapa?” tanyanya dengan nada amat sangat khawatir. Khawatir?—tidak! Perasaan itu dusta belaka. “Sayang, kamu menangis? Kenapa? Apa ada yang melukaimu? Bilang ke aku, biar aku hajar mereka!” sergahnya lagi melihatku terus terdiam tak berkutik.
“Kamu yang kenapa, mas? Kenapa kamu tega berbohong padaku? Kenapa, mas? Kenapa tidak bicara dari awal? Kenapa membiarkan ini berlarut hingga aku jatuh begitu dalam seperti ini? Kamu bohong, mas?!” teriakku padanya dan seketika air mataku kembali jatuh. Mas Revan hanya membulatkan matanya mendengar celotehku.
“Sayang aku bisa jelasin. Itu semua tidak benar.” Sanggahnya dengan raut wajah ketakutan dan memohon.Oh, dia mengerti maksudku.
“Jelasin apa, mas? Aku sudah mendengar semuanya. Aku muak dengan semua ini. Tega kamu, mas.” Teriakku yang begitu amat frustasi dengan semua pernyataan yang aku dengar hari ini. Aku kalut. Pandanganku seakan hitam. Ya. Hanya kegelapan dan deruh emosi yang menghantuiku saat ini.
“Sayang, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya. Apapun yang kamu dengar itu tidak sama dengan apa yang kurasa.” Akunya begitu amat sangat terluka. Eh? Terluka—mungkinkah?
“Sayang, dengarkan penjelasanku dulu. Aku mohon” pintanya lagi dengan begitu rapuh dan kelu. Aku tetap menundukkan kepala tidak bisa lagi menahan isakku.
“Cukup, mas!. Aku begitu muak dengan semuanya.” Isakku pecah mendengar penjelasan yang akan ia jelaskan. Aku sudah tidak sanggup lagi mendengar bahwa aku hanyalah bahan taruhan. ‘Semuanya ini bohong!’ cibirku emosi dalam hati.
“Sayang, aku mohon dengarkan dulu. Demi Tuhan perasaanku padamu aku tidak berbohong. Ku akui, memang aku dulu hanya berniat bermain saja denganmu. Tapi agaknya salah, perasaanku padamu jauh lebih besar daripada egoku pada teman-temanku. Sayang, sungguh aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bohong. Tolong, maafkan mas.” Ungkap mas Revan dengan mata yang memerah seakan menahan emosi marah sekaligus terluka mengetahui diriku yang kacau karena tingkahnya.
Bodoh! Ya. Dia bodoh. Jahat.
“Maaf mas. Aku terlalu sakit hati atas hal ini. Aku pergi.” Ucapku cepat dan berlalu meninggalkannya mematung didepan pintu. Demi Tuhan! Aku tidak ingin seperti ini tapi hatiku terlalu sakit menerima semua ini. Aku ingat betul nasihat ibu untuk tidak langsung percaya pada orang yang baru dikenal. Aku bodoh—aku membiarkan diriku jatuh padanya.
‘Ibu, maafkan Diana’.
Ingatanku masih jelas akan kisah pahit itu. Kini hanyalah kosong dan asa yang menjadi cahayaku. Cahaya yang dulu terang tak bisa kutemukan lagi. Aku begitu kecewa dan sakit hati akan hal itu. Bagaimana bisa dengan bodohnya aku percaya dan memberikan rasa lebihku padanya. Yang tertinggal saat ini hanyalah luka. Ya. Luka atas semua kebohongannya. Luka atas semua permainan bodoh cintanya.
—TAMAT—



 Diikutsertakan lomba Cessomedia Publisher Event Cerpen 27 July 2015