DUSTA
(Noviandya)
“Mungkin
sang fajar dan sayap-sayap burung patah
Menyaksikan
kita berseteru selalu tak pernah damai
Mungkin
cintaku terlalu kuat dan menutupi
Jiwa
yang dendam akan kerasmu sehingga kita bersama”
Sebait
lagu dari Potret – mungkin terus menggema ditelingaku. Bagaimana bisa
lagu itu sama persis dengan apa yang kurasa. Aku semakin meringkuk memeluk
benda lembut berukuran setengah dari tinggi badanku. Ya. Guling
kesayanganku—satu-satunya benda yang selalu menemaniku tiap kali aku meluapkan
segala permasalahan yang ditimbulkan oleh kata yang biasa orang menyebutnya
CINTA. Aku amat terasa muak dengan kata itu. Sungguh?! Aku masih ingat betapa
aku begitu tersakiti akan hal itu. Kini, aku hanyalah gadis yang begitu rapuh.
Iya—aku rapuh tapi dengan segenap topeng yang kumiliki, aku terlihat begitu
tegar.
“Sayang, dengarkan penjelasanku
dulu. Aku mohon” pintanya dengan begitu rapuh dan kelu
“Cukup, mas!. Aku begitu muak
dengan semuanya.” Isakku pecah mendengar penjelasan yang akan ia jelaskan
“Sayang, aku mohon dengarkan dulu”
Ingatan percakapan
pahit itu kembali mengiang dalam otakku “Argh!” pekikku dengan nada frustasi
sebari aku melemparkan boneka kesayanganku. “Aku benci. Aku benci kamu, mas.
Aku benci!” isakku tak tertahan lagi. Aku masih ingat betul bagaimana
perpisahan pahit itu terjadi. Permainan konyol—bukan konyol melainkan keji
bagiku.
“Sayang, dengarkan aku. Aku tidak
tahu jika begini akhirnya tapi demi Tuhan aku mencintaimu. Aku sungguh
mencintaimu. Aku tidak bohong.” Ungkapnya dengan nada
begitu pilu dan—menyesal. Menyesal? Benarkah ia punya rasa sesal setelah apa
yang ia lakukan padaku. Aku masih ingat betul bagaimana aku bisa mengenalnya
bahkan menerimanya sebagai sosok lelaki paling indah hingga berpalingpun aku
enggan. Aku juga masih sangat ingat betul betapa bahagianya aku bersamanya.
Kala
itu, aku tengah berjalan sendiri ditengah gelapnya malam dan indahnya kilauan
bintang bersinar. Aku begitu lelah sehabis mengerjakan tugas kelompok di rumah
Arinta. Mataku sayup-sayup menangkap gerombolan pria bertato dengan tangannya
menggenggam botol beling berwarna coklat kehitaman. Perasaan takut dan waspada
terus menerus menghantuiku. Aku kalut. Aku takut. Melihat jam sudah menunjukkan
pukul 9 malam tanpa kusadari gerombolan pria itu mulai mendekat.
“Adik
manis mau kemana? Abang antar ya” sahut pria bertopi putih berkaos hitam dengan
nada menggodanya.
Aku terus berjalan dan
menghiraukan godaan pria-pria bejat itu. Tiba-tiba tanganku ditarik salah satu
pria yang memiliki jenggot lebat. “Akhh” pekikku kesakitan akibat genggamannya
yang begitu erat. “Sini adik manis, temani abang-abang ini sebentar. Abang
tidak akan macam-macam kok. Betul kan, teman-teman hahaha” ucap pria yang
menarik tanganku itu. Tiba-tiba datang lelaki asing mencoba menolongku “Hey?!
Lepaskan gadis itu!” perintahnya dengan nada yang bisa dibilang amat
mengerikan. Mereka bergulat yang entah bagaimana bisa kuungkap. Aku ketakukan.
Bersyukur Tuhan mengirimkan malaikat padaku akhirnya aku lepas dari jeratan
pria-pria bejat itu.
Tapi—sebentar. Siapa
lelaki itu?
“Kamu
tidak apa-apa?” tanya dengan nada ngos-ngosan sehabis bergulat tadi. Aku
maklumi dia terbilang keren. Bahkan perempuan manapun bisa tertarik padanya.
Mata indahnya terpancar jelas ditengah kegelapan malam. Aku mengangguk,
mengiyakan bahwa aku baik-baik saja tapi agaknya raut wajahku masih
memperlihatkan ketakutan yang menghantuiku sedari tadi. “Oh iya, perkenalkan,
Revan. Aku rasa kamu masih dibawahku. Panggil saja Mas.” Ucapnya memperkenalkan
diri dengan memasang senyumnya
“Terimakasih,
mas. Diana balik dulu.” Sahutku dan berlalu begitu saja tanpa menoleh
kebelakang melihat mas Revan yang masih mematung.
**
Hari
terus berganti hari, hampir setiap hari aku bertemu mas Revan. Bagaimana tidak,
ternyata dia adalah anak baru kelas XII disekolahku. Banyak perempuan begitu
mendambakannya. Ya. Aku pun. Hingga ketika aku berniat pergi menuju toilet
sosok gagah menarik tanganku “Diana” panggilnya begitu indah ditelingaku. Aku
tak lupa suara itu. Suara mas Revan. “Eh iya, mas. Ada apa panggil Diana?”
sahutku cepat memasang senyum yang amat sangat ceria. “Ikut mas sebentar. Ada yang
ingin mas bicarakan.” Ungkapnya dengan penuh penekanan seakan menggambarkan
bahwa mas Revan serius dalam ucapannya. Aku pun mengikutinya. Semua mata kini
tampak mengikuti setiap langkahku ‘Ada apa dengan mereka? Apa ada yang salah
denganku’ gerutuku dalam hati sebari memanyunkan bibir merahku. Mas Revan terus
menyusuri koridor sekolah tanpa memperdulikan beribu mata yang memandang kearah
kami berdua.
Akhirnya
kami sampai disudut taman belakang sekolah. ‘Sudah lama aku tak mengunjungi
taman ini. Masih indah saja taman ini. Bunga mawar pun—bunga favoritku—masih
bermekaran dengan indahnya’ gumamku kagum melihat taman belakang ini. “Diana,
aku ingin bicara denganmu.” Potong mas Revan membuyarkan lamunanku. “Eh, iya
mas ada apa?” jawabku sontak dengan mata bisa dibilang kaget. “Begini, mungkin
ini terlalu cepat tapi aku merasa ada yang ganjal di hati mas. Kamu berbeda,
Diana.” Ungkapnya aku masih terbilang kaget dan ragu akan ucapannya tapi mas
Revan segera menyanggahnya.
“Kamu
mau menjadi kekasihku, Diana?”
**
Setelah
ungkapan kasih mas Revan, hubunganku dengannya sudah bisa terbilang sangat
dekat. Kami menjadi dua sejoli yang kasmaran. Setiap hari kami selalu
menghabiskan waktu bersama. Entah ketika jam istirahat bahkan ketika kami
sama-sama mengerjakan tugas sekolah masing-masing. Rumah mas Revan tidak jauh
dari rumahku, hanya berkisar kurang lebih 2km. Hingga suatu ketika, aku ingin
menuju kantin dan melewati kelas mas Revan. Aku mendengar suara gerombolan
lelaki sedang berunding dan aku mendengar pula suara yang tak asing lagi—suara
mas Revan. ‘Ada apa’ gusarku sebari menguping pembicaraan meraka yang tampak
serius.
“Bagaimana
Rev? Kau bilang hanya beberapa hari ini sudah hampir 6 bulan kenapa tidak kau
akhiri saja. Taruhan kita bagaimana, Rev. Jangan sampai kau larut dalam
perasaanmu.” Ucap salah satu teman mas Revan yang terlihat mencibir mas Revan.
Seketika dunia seakan runtuh. Dadaku sesak mendengar semua itu. Buliran air
mata tak bisa ku tahan lagi. Aku dengan cepatnya berlari menuju toilet.
‘Benarkah
pernyataan itu?! Jadi aku hanya bahan taruhan? Mas Revan jahat!!!’ pertanyaan
itu terus mengaung dikepalaku. Benarkah?!
“Jahat
kamu, mas. Tega sekali kamu denganku.” Isakku tak tertahan sebari bercemin
melihat keadaanku yang begitu amat kacau. Aku termenung begitu lama di toilet
hingga tak sadar aku harus kembali ke kelas. “Ya Tuhan!” sontakku kaget melihat
mas Revan berdiri menunggu didepan pintu toilet wanita ini. “Sayang, kamu
kenapa?” tanyanya dengan nada amat sangat khawatir. Khawatir?—tidak! Perasaan
itu dusta belaka. “Sayang, kamu menangis? Kenapa? Apa ada yang melukaimu?
Bilang ke aku, biar aku hajar mereka!” sergahnya lagi melihatku terus terdiam
tak berkutik.
“Kamu
yang kenapa, mas? Kenapa kamu tega berbohong padaku? Kenapa, mas? Kenapa tidak
bicara dari awal? Kenapa membiarkan ini berlarut hingga aku jatuh begitu dalam
seperti ini? Kamu bohong, mas?!” teriakku padanya dan seketika air mataku
kembali jatuh. Mas Revan hanya membulatkan matanya mendengar celotehku.
“Sayang
aku bisa jelasin. Itu semua tidak benar.” Sanggahnya dengan raut wajah
ketakutan dan memohon.Oh, dia mengerti maksudku.
“Jelasin
apa, mas? Aku sudah mendengar semuanya. Aku muak dengan semua ini. Tega kamu,
mas.” Teriakku yang begitu amat frustasi dengan semua pernyataan yang aku
dengar hari ini. Aku kalut. Pandanganku seakan hitam. Ya. Hanya kegelapan dan
deruh emosi yang menghantuiku saat ini.
“Sayang,
aku mohon dengarkan aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya. Apapun yang kamu
dengar itu tidak sama dengan apa yang kurasa.” Akunya begitu amat sangat
terluka. Eh? Terluka—mungkinkah?
“Sayang,
dengarkan penjelasanku dulu. Aku mohon” pintanya lagi dengan begitu rapuh dan
kelu. Aku tetap menundukkan kepala tidak bisa lagi menahan isakku.
“Cukup,
mas!. Aku begitu muak dengan semuanya.” Isakku pecah mendengar penjelasan yang
akan ia jelaskan. Aku sudah tidak sanggup lagi mendengar bahwa aku hanyalah
bahan taruhan. ‘Semuanya ini bohong!’ cibirku emosi dalam hati.
“Sayang,
aku mohon dengarkan dulu. Demi Tuhan perasaanku padamu aku tidak berbohong. Ku
akui, memang aku dulu hanya berniat bermain saja denganmu. Tapi agaknya salah,
perasaanku padamu jauh lebih besar daripada egoku pada teman-temanku. Sayang, sungguh
aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bohong. Tolong, maafkan
mas.” Ungkap mas Revan dengan mata yang memerah seakan menahan emosi marah
sekaligus terluka mengetahui diriku yang kacau karena tingkahnya.
Bodoh!
Ya. Dia bodoh. Jahat.
“Maaf
mas. Aku terlalu sakit hati atas hal ini. Aku pergi.” Ucapku cepat dan berlalu
meninggalkannya mematung didepan pintu. Demi Tuhan! Aku tidak ingin seperti ini
tapi hatiku terlalu sakit menerima semua ini. Aku ingat betul nasihat ibu untuk
tidak langsung percaya pada orang yang baru dikenal. Aku bodoh—aku membiarkan
diriku jatuh padanya.
‘Ibu, maafkan Diana’.
Ingatanku
masih jelas akan kisah pahit itu. Kini hanyalah kosong dan asa yang menjadi
cahayaku. Cahaya yang dulu terang tak bisa kutemukan lagi. Aku begitu kecewa
dan sakit hati akan hal itu. Bagaimana bisa dengan bodohnya aku percaya dan
memberikan rasa lebihku padanya. Yang tertinggal saat ini hanyalah luka. Ya.
Luka atas semua kebohongannya. Luka atas semua permainan bodoh cintanya.
—TAMAT—